Mengikuti pengajian pasaran yang serba cepat sering kali meninggalkan beberapa poin yang belum sepenuhnya dipahami oleh para santri. Menyadari hal tersebut, Pondok Pesantren Mafatihussaadah menerapkan sebuah inovasi dalam kurikulum ramadannya, yaitu sesi bedah materi kilat. Sesi ini dilakukan di sela-sela waktu istirahat atau setelah kiai selesai membacakan bab tertentu dari kitab yang sedang dikaji. Tujuannya adalah untuk memberikan ruang klarifikasi bagi para santri agar pemahaman mereka tidak terpotong-potong akibat tempo pembacaan yang tinggi. Dalam suasana yang lebih santai namun tetap serius, materi yang tadinya terasa rumit dikupas kembali secara lebih sederhana dan tepat sasaran.
Salah satu bagian yang paling dinanti oleh para peserta adalah sesi tanya jawab singkat yang diadakan di akhir setiap pertemuan. Di sini, santri diperbolehkan mengajukan pertanyaan mengenai kerumitan bahasa Arab, interpretasi hukum, hingga penerapan ajaran kitab dalam konteks kehidupan sehari-hari. Kiai atau asisten kiai yang bertugas akan memberikan jawaban secara lugas dan pragmatis. Metode ini sangat efektif untuk menghilangkan kebingungan yang mungkin muncul saat santri sedang terburu-buru menuliskan makna pegon. Meskipun durasinya terbatas, kualitas diskusi yang terjadi sangatlah padat karena fokus pada inti permasalahan yang sering dihadapi oleh santri di lapangan.
Kegiatan ngaji pasaran di Ponpes Mafatihussaadah memang dikenal memiliki standar yang cukup tinggi dalam hal penguasaan teks. Namun, dengan adanya bedah materi ini, santri dari berbagai tingkatan kemampuan merasa sangat terbantu. Mereka tidak hanya sekadar “khatam” secara formalitas dengan memiliki kitab yang penuh dengan coretan makna, tetapi juga benar-benar mengerti substansi dari apa yang mereka tulis. Hal ini sejalan dengan visi pesantren untuk menghasilkan lulusan yang tidak hanya hafal teks, tetapi juga mampu melakukan analisis mendalam terhadap khazanah keilmuan Islam klasik.
Di lingkungan Ponpes Mafatihussaadah, suasana selama sesi bedah materi ini berlangsung sangat dinamis. Para santri senior biasanya akan membimbing adik-adik kelasnya dalam kelompok-kelompok kecil untuk mendiskusikan kembali poin-poin krusial. Pola pendidikan sebaya ini menciptakan ikatan emosional yang kuat sekaligus melatih kemampuan komunikasi dan kepemimpinan santri. Dengan cara ini, ilmu yang disampaikan oleh kiai tidak hanya berhenti di satu arah, melainkan berputar dan berkembang melalui diskusi-diskusi produktif di teras-teras asrama maupun di bawah pohon-pohon rindang di sekitar kompleks pesantren.
