Pada Abad Keemasan Islam, Geografi Islam berkembang pesat, didorong oleh kebutuhan agama (seperti arah kiblat dan waktu salat), perdagangan yang luas, dan rasa ingin tahu intelektual yang mendalam. Para sarjana Muslim tidak hanya mengumpulkan dan menerjemahkan pengetahuan geografis dari peradaban kuno, tetapi juga melakukan penjelajahan ekstensif dan mengembangkan teknik pembuatan peta yang revolusioner, secara signifikan memperluas pemahaman dunia pada masa itu.
Motivasi awal untuk Geografi Islam adalah agama. Kebutuhan untuk menentukan arah kiblat (arah Ka’bah di Mekkah) bagi umat Islam di seluruh dunia mendorong perkembangan astronomi dan kartografi. Selain itu, penentuan waktu salat yang akurat di berbagai lokasi dan perencanaan rute haji yang aman juga memicu penelitian geografis yang cermat, memastikan praktik keagamaan dapat dilakukan dengan presisi di mana pun berada.
Perdagangan memainkan peran kunci dalam kemajuan Geografi Islam. Jaringan perdagangan Muslim membentang dari Spanyol hingga Tiongkok, mendorong para pedagang dan penjelajah untuk menjelajahi rute baru, mencatat deskripsi tempat, dan mengumpulkan informasi tentang iklim, topografi, serta budaya lokal. Catatan-catatan perjalanan ini menjadi sumber data yang tak ternilai bagi para geografer, memperkaya pengetahuan dunia yang tersedia.
Para geografer Muslim seperti Al-Idrisi, Ibnu Battuta, dan Al-Biruni adalah pionir dalam bidang ini. Al-Idrisi, yang bekerja di istana Raja Roger II dari Sisilia, menciptakan peta dunia yang sangat akurat, Tabula Rogeriana, pada abad ke-12. Peta ini jauh melampaui karya-karya sebelumnya dalam hal detail dan presisi, menunjukkan kecanggihan Geografi Islam pada puncaknya, menggambarkan dunia dengan akurasi yang belum pernah ada.
Ibnu Battuta, seorang penjelajah abad ke-14, melakukan perjalanan epik yang melintasi hampir seluruh dunia Islam dan sekitarnya, meliputi lebih dari 120.000 kilometer. Catatan perjalanannya, Rihla, memberikan deskripsi rinci tentang tempat, budaya, dan masyarakat yang ditemuinya, menjadikannya salah satu karya geografis dan etnografis terpenting dalam sejarah. Karyanya adalah bukti langsung dari cakupan Geografi Islam yang luas.
Selain penjelajahan, Geografi Islam juga mengalami kemajuan signifikan dalam pembuatan peta (kartografi). Mereka menggunakan metode matematika dan astronomi untuk menghitung lintang dan bujur dengan lebih akurat.
