Di tengah gencarnya digitalisasi dan ketergantungan manusia modern terhadap energi, Pesantren Mafatihussaadah tetap teguh berdiri dengan prinsip kesederhanaan yang ekstrem. Terletak jauh di dalam hutan lindung yang sulit dijangkau kendaraan bermotor, lembaga ini dikenal luas sebagai pesantren terpencil yang memiliki daya tarik spiritual unik. Namun, hal yang paling mengejutkan bagi pengunjung yang datang adalah fakta bahwa hingga tahun 2026 ini, mereka secara sadar menolak listrik masuk ke lingkungan mereka. Bukan karena pemerintah tidak mau membangun infrastruktur, melainkan karena keputusan bulat dari pengasuh dan dewan guru untuk menjaga kemurnian suasana batin dan fokus para santri dalam menuntut ilmu.
Prinsip ini diambil berdasarkan filosofi bahwa cahaya sejati adalah cahaya yang terbit dari dalam hati melalui zikir, bukan dari pendar lampu neon atau layar gawai. Di Mafatihussaadah, kegiatan belajar mengajar sepenuhnya bergantung pada siklus matahari dan cahaya lilin atau lampu minyak saat malam hari. Hidup sebagai pesantren terpencil memberikan mereka keistimewaan berupa kesunyian yang absolut, jauh dari bisingnya notifikasi media sosial atau distraksi tayangan televisi. Dengan cara menolak listrik, para santri dipaksa untuk lebih peka terhadap suara alam, lebih fokus pada bacaan kitab suci, dan memiliki waktu tidur yang lebih berkualitas sesuai dengan ritme biologis manusia purba yang sehat.
Ketiadaan energi modern ini menciptakan suasana belajar yang sangat intens dan khidmat. Bayangkan, ratusan santri menghafal bait-bait syi’ir di bawah temaram lampu teplok, menciptakan pemandangan yang membawa siapa pun kembali ke atmosfer ratusan tahun silam. Status sebagai pesantren terpencil membuat interaksi sosial di dalamnya menjadi sangat erat karena tidak ada orang yang sibuk dengan ponsel masing-masing. Keputusan menolak listrik juga berdampak pada kemandirian para santri; mereka harus belajar memasak menggunakan kayu bakar, menumbuk padi secara manual, dan mengambil air dari mata air yang jaraknya cukup jauh. Kehidupan yang keras ini justru membentuk fisik mereka menjadi sangat tangguh dan jarang jatuh sakit.
