Mengkaji kemukjizatan Al-Qur’an dari sudut pandang sastra membutuhkan perangkat ilmu kesusastraan Arab yang tinggi, yakni ilmu Balagah. Pembelajaran mengenai aspek Kinayah ilmu Balagah mengajak santri untuk memahami gaya bahasa ungkapan tersirat yang menyampaikan suatu maksud tanpa menyebutkan kata kuncinya secara langsung. Penggunaan ekspresi yang bernilai estetik ini menampilkan kehalusan serta kesantunan bahasa Al-Qur’an yang luar biasa. Materi ini menjadi pembahasan mendalam lanjutan setelah santri mempelajari cabang Majaz Mursal dalam kelompok ilmu Bayan.
Secara istilah sastra, kinayah adalah suatu ungkapan yang diucapkan tetapi yang dimaksudkan adalah kelaziman dari makna ungkapan tersebut, dengan tetap membolehkan dihadirkannya makna asli. Berbeda dengan majaz yang menghalangi kehendak makna asli, kinayah memberikan kebebasan makna ganda yang saling menguatkan. Penggunaan gaya bahasa ini berfungsi untuk memperhalus penyampaian hal-hal yang tabu, mengagungkan sifat seseorang, atau menonjolkan karakteristik khas suatu objek secara indah.
Dalam ayat-ayat Al-Qur’an, banyak ditemukan ungkapan kinayah untuk menggambarkan hubungan suami istri, kesederhanaan, atau celaan terhadap sifat buruk. Sebagai contoh, ungkapan menyentuh wanita atau membersihkan pakaian sering kali digunakan untuk merujuk pada makna bersuci atau menjaga kehormatan diri. Pemilihan kata yang sangat sopan ini menjadi bukti tingginya estetika dan kesantunan bahasa ilahi dalam mendidik moral manusia.
Proses analisis di kelas balagah dilakukan dengan mengurai struktur kalimat, mencari muknas bihi (sifat atau makna tersirat), serta mengidentifikasi indikator petunjuknya (qarinah). Santri dilatih mendeteksi perbedaan antara ungkapan lugas (sharih) dan ungkapan kiasan tersirat ini agar dapat menangkap pesan moral Al-Qur’an secara lebih mendalam dan berkesan.
Kesimpulannya, menguasai aspek kiasan tersirat dalam sastra Arab memperkaya apresiasi santri terhadap keagungan Al-Qur’an. Pemahaman ini membuktikan bahwa Al-Qur’an bukan sekadar kitab hukum, melainkan juga karya sastra tertinggi yang tiada tandingannya. Dengan menyelami keindahan bahasanya, rasa cinta dan penghayatan santri terhadap firman Allah akan semakin meningkat.
