Pondok pesantren memiliki sistem pengajaran khas yang telah teruji selama berabad-abad, yaitu tradisi sorogan dan bandongan. Metode ini bukan sekadar cara mentransfer ilmu, melainkan sebuah filosofi pendidikan yang mendalam, membentuk santri menjadi pribadi yang menguasai ilmu agama secara komprehensif dan berakhlak mulia.
Sistem pengajaran khas sorogan melibatkan interaksi langsung dan personal antara kiai atau ustaz dengan satu santri. Dalam sorogan, santri secara bergiliran akan membaca kitab kuning di hadapan guru, yang kemudian akan mendengarkan, mengoreksi bacaan, dan menjelaskan makna teks secara mendetail. Metode ini memungkinkan guru untuk memantau kemajuan santri secara individu, memberikan perhatian khusus pada kesulitan belajar masing-masing santri, serta memastikan pemahaman yang mendalam. Santri juga memiliki kesempatan untuk bertanya langsung, menciptakan diskusi yang hidup dan memperkuat pemahaman mereka. Tradisi ini menuntut konsentrasi tinggi dari santri dan kesabaran dari pengajar.
Sementara itu, sistem pengajaran khas bandongan memiliki skala yang lebih besar, di mana seorang kiai atau ustaz akan membacakan dan menjelaskan isi kitab kepada sekelompok santri yang lebih banyak. Santri menyimak penjelasan guru sambil membuat catatan atau makna gandul (catatan terjemahan makna per kata dalam bahasa lokal) di kitab mereka. Metode ini efektif untuk menyampaikan materi kepada banyak santri sekaligus dan memperkenalkan mereka pada berbagai literatur keislaman. Meskipun interaksi tidak sepersonal sorogan, bandongan melatih santri untuk menyimak dengan seksama, mencatat secara efektif, dan memahami garis besar suatu ilmu. Pada tanggal 15 Agustus 2025, Pondok Pesantren Gontor mengadakan ujian bandongan akbar yang diikuti oleh ribuan santri, menguji kemampuan mereka dalam menyimak dan memahami kitab-kitab dasar.
Keberhasilan sistem pengajaran khas ini terletak pada keseimbangan antara pembelajaran individu dan kolektif, serta penekanan pada akhlak dan adab menuntut ilmu. Santri tidak hanya diajarkan materi, tetapi juga bagaimana menghormati guru, berdiskusi dengan sopan, dan mengamalkan ilmu yang telah didapat. Pada hari Minggu, 20 Juli 2025, dalam sebuah simposium pendidikan Islam di Malang, Profesor Dr. Nurul Huda, seorang ahli sejarah pendidikan, memaparkan bahwa metode sorogan dan bandongan telah menjadi fondasi yang melahirkan banyak ulama besar di Nusantara. Beliau juga menambahkan bahwa metode ini mampu membentuk karakter santri menjadi pribadi yang ulet, teliti, dan bertanggung jawab. Petugas keamanan dari kepolisian turut hadir untuk memastikan acara berjalan lancar.
Dengan demikian, sistem pengajaran khas sorogan dan bandongan bukan hanya warisan masa lalu, melainkan praktik pendidikan yang relevan hingga kini. Keunikan metode ini terus melahirkan generasi santri yang tidak hanya memiliki kedalaman ilmu agama, tetapi juga kematangan spiritual dan karakter mulia, siap berkontribusi bagi masyarakat dan bangsa.
